Duapuluh guru dari Kota Ternate dan Tidore melakukan studi banding ke  Labuha dari Rabu (22/5) hingga Jum’at (24/5). Dua SD yang mendapatkan kunjungan dalam studi banding ini adalah SD 1 Labuha dan SD Inpres bertingkat Mandawong. Kunjungan tersebut untuk melihat langsung kegiatan belajar mengajar yang ada di dua sekolah yang dinilai dapat menjadi contoh tersebut, mengingat keduanya sudah menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) sejak 2005 dalam proses kegiatan belajar mengajarnya. Warta sempat melihat langsung bagaimana para guru yang difasilitasi ‘Save The Children’ tersebut mengamati model pembelajaran di kedua sekolah tersebut yang hal ini juga membuat kagum beberapa guru yang melakukan studi banding tersebut.

 

“Peranserta masyarakat di SD Inpres Mandaong sangat mengesankan. Ini sanagt sulit ditemukan di Ternate” ungkap salah seorang peserta studi banding Yeni N Balamu. Pujian senada juga diungkapkan peserta lain Icha Malan terhadap suasana pembelajaran di SD 1 Labuha. ” Proses pembelajaran di sini sangat aktif “ komentarnya.

 

Sementara S Belen PhD yang merupakan konsultan Save The Children dari Pusat Kurikulum Depdiknas Jakarta juga menilai kedua sekolah tersebut memiliki sistem pembelajaran dan MBS yang berhasil dan sudah teruji kualitasnya. “Pembelajaran aktif di kedua sekolah tersebut lebih baik dari sekolah lain yang ada di Maluku Utara yang pernah saya kunjungi” ujarnya.

 

Sementara itu Save The Children melalui Manajer Programnya Wilson Sitorus dan Koordinator Proyek Mahyudin Hatma berharap, Pemkab Halsel agar mempertahankan dan melanjutkan model sekolah percontohan tersebut, termasuk komposisi struktur personel di dalamnya. (sam)